Mood

Pengen berbisnis tapi modal pas-pasan?
Wah pas banget nie joint bisnisku...
Daftarnya aja gratis loh! Aku jelasin yah :

- Daftar member 24.900 + KTP

Nah dalam 3 bulan pertama juga member baru bisa mendapatkan hadiah promo welcome program yang super keren hadiahnya...

Yuk buruan gabung,,, berminat? inbox ke sini ^^

Thursday, July 7

[Sinopsis] Princess Ja Myung Go Episode 2


Sebelumnya Raja Goguryeo (Muhyul) ingin melihat dengan mata kepala sendiri apakah Drum Ja Myung itu benar-benar pemberian dari Surga, oleh karena itu dia datang ke Nangnang bersama Pangeran Hodong. Raja Muhyul tidak percaya akan kekuatan Drum Ja Myung itu sebelum mencobanya, Raja Chae Ri mengingatkan bahwa ia tidak akan bertanggung jawab jika prajuritnya terluka. Akhirnya Drum itu berbunyi dengan nyaring saat pasukan Goguryeo bersiap menyerang yang membuat Raja Muhyul ketakutan. Sementara itu Rae Hee menggantikan P. Hodong untuk menghancurkan drum Ja Myung. Terjadi pertarungan sengit antara Rae Hee dan Ja Myung saat Rae Hee akan menghancurkan drum Ja Myung, Ja Myung yang terkena racun dan tertusuk konde di dadanya melihat dengan sedih adiknya yang sudah dibutakan oleh cinta menghancurkan Drum Ja Myung dan mulai kehilangan kesadarannya pelan-pelan.

Ternyata Putri Ja Myung diselamatkan oleh Mi Chu, Cha Cha Song dan Illpom, mereka segera membawa Putri Ja Myung dengan kereta. Kondisi Putri Ja Myung sangat kristis, racun sudah menyebar sampai Putri Ja Myung muntah darah.

“Cepatlah!Cepatlah!Lebih cepat! Tuan putri sedang sekarat!”ujar Mi Chu yang melihat Putri Ja Myung terus mengeluarkan darah dipangkuannya.
“Wanita bodoh!Tidak bisakah kamu mengatakan kata-kata yang lebih baik!”seru Cha Cha Song menanggapi ucapan istrinya.

“Il Poom, mari kita lebih cepat!”seru Cha Cha Song pada Il Poom yang memegang kendali kuda. Il Poom pun semakin memacu kudanya.
“Anda harus kuat! Kami pasti akan menyelamatkan Anda, anda harus kuat putri!”ujar Cha Cha Song yang melihat putri terus muntah darah.
“Il Poom, lebih cepat! Lari lebih cepat. Putri terus memuntahkan darah”kata Cha Cha Song panik. Il Poom pun semakin memacu kudanya.

Sementara itu Putri Rae Hee minum soju di kamarnya. Di ruangan itu ada lukisan pangerang Hodong besar sekali. P. Rae Hee menuangkan soju ke dalam cawannya yang telah habis dan berdiri di hadapan lukisan P. Hodong. “Mari kita bersulang?”ujar Rae Hee lalu meminum soju di cawannya.
“Aku mengikuti instruksimu, menghancurkan drum dan membunuh Ja Myung”seru Rae Hee ke lukisan Hodong, tiba-tiba lukisan Hodong tadi berubah jadi manusia seperti Pangeran Hodong asli (oppa Jung Kyung Ho hiks hiks miss u) yang ternyata hanya halusinasi Rae Hee. Rae Hee pun melemparkan cawannya ke lukisan Hodong hingga pecah.
“Walaupun….walaupun aku membencinya, walaupun aku begitu dingin karena cemburu, meskipun dia hanya saudara tiriku, bagaimana aku bisa sampai hati membunuhnya?”keluh Rae Hee yang sudah mulai meneteskan air mata.

“Hodong… Mengapa kau membuatku menjadi orang yang berdosa? Hak apa yang kamu miliki?”ujar Rae Hee lalu Rae Hee mulai mendekati lukisan Hodong dan menyentuhnya.
“Kenapa bukan aku orang yang kamu cintai?”tanya Rae Hee sambil menyentuh lukisan Hodong. Lalu Rae Hee menjatuhkan dirinya dan menangis penuh penyesalan.
“Kenapa aku harus mencintai orang seperti itu?”gumannya menyesali.

Kembali ke Il Poom dan Cha Cha Song, mereka berdua membakar arang batu untuk penawar racun Ja Myung. “Cepat, tidak ada waktu, tidak ada waktu!Cepat!”ujar Cha Cha Song yang diangguki oleh Il Poom, mereka berdua pun segera mengumpulkan bahan-bahan yang sudah dibakar dan mengangkatnya berdua ke dalam gubuk.

Sementara itu di dalam gubuk Mi Chu mengolesi lumpur ke seluruh badan Ja Myung kecuali muka. Cha Cha Song dan Il Poom pun langsung memasukkan bahan yang sudah dibakar tadi ke dalam bak yang telah diisi air..
“Cepat, kenapa kalian begitu lambat?”protes Mi Chu.
“Ok”ujar Cha Cha Song. “Apakah kita sudah selesai?”lanjut Cha Cha Song.
Il Poom! Il poom!”seru Mi Chu.
“Bawa Putri ke sini”ujar Cha Cha Song.

Il Poom pun mengangkat Ja Myung dan memasukkannya ke dalam bak. “Hati-hati, hati-hati”ujar Mi Chu.
“Kita harus membiarkan racun keluar mengalir. Paksa racun hitam keluar.Oh tidak, apa yang kita lakukan. Racun sudah mulai menyebar kelopak mata” seru Mi Chu panik.

Il Poom pun memperhatikan Putri yang mati-matian dilindunginya terbaring dengan lemah.
“Anda harus mampu bertahan ”gumam ujar Il Poom.
Dalam pingsannya Ja Myung menceritakan awal mulanya ayahnya (Raja Chae Ri menjadi raja) jadi ini flashback ke masa kecilnya Ja Myung dan semuanya.
“Ayah, aku gagal melindungi drum. Apa yang akan terjadi dengan Nangnang di masa depan? Maafkan aku”kata Ja Myung.
Flashback…….
Awal mula kekaisaran raja Chae Ri dibangun…. 18 tahun sebelumnya.

Sebelum menjadi raja, Chae Ri seorang jendral yang gagah berani dan sangat peduli kepada bawahan dan rakyat sekitarnya. Saat itu Nangnang di pimpin seorang Raja yang sangat kejam. Saat itu raja yang sedang memerintah sedang menghukum pengkhianat.
“Bunuh pengkhianat Chosun”seru Raja.

Seharusnya yang harus membunuh para pengkhianat itu adalah Chae Ri yang menjabat sebagai Jenderal Kiri dari Gojoseon, angkatan perang Nakrang, namun ia hanya menengok sinis ke arah raja dan terdiam. Semua Jenderal lain menoleh ke arah Chae Ri, karena menunggu lama Chae Ri juga belum mengeksekusi pengkhianat, Wang Geng adik ipar Chae Ri sekaligus jenderal kanan dari angkatan yang sama dengan Chae Ri maju ke depan mengeksekusi para penghianat sekali tebas dengan pedangnya .

“Sudah lebih dari 120 tahun sejak kaisar dinasti Han Wudi menghancurkan Gojoseon yang didirikan oleh Dangun dan mendirikan empat komando Han di Nakrang, Indoon, Jinbun dan Hyundoo (nama-nama suku waktu pemerintahan Jumong dan So Seo No di Goguryeo???).

Sementara itu Jendral lain (yang sangat jahat tapi nanti jadi gurunya Ja Myung lupa namanya), mencari wanita untuk Raja, tapi ia ditipu oleh wanita yang akan menikah itu, seseorang sudah menggantikannya menyamar. Wanita cantik itu jadi nenek-nenek ketika dibuka penutup kepalanya. Jendral itu pun kesal karena di tipu, “Bunuh dia!”ujarnya lalu menendang wanita tua itu.
Lalu Jendral itu memacu kudanya dengan kencang, sampailah ia di tempat arak-arakan pengantin wanita yang sebenarnya.
“Berhenti!”teriak Jendral. Lalu ia membuka penutup wajah pengantin wanita. Ia pun tertawa senang karena ia menemukan wanita yang dicarinya.
“Heh.heh, heh, kita dapatkan di sini”seru Jendral itu lalu mengambil pengantin wanita dan menaruh wanita tadi di kudanya. Ayahnya memohon supaya anaknya tidak dibawa pergi.
“Tuan, tolong, jangan!”pintanya. Namun Jendral itu langsung menghunus pedangnya dan membunuh ayah gadis itu. Lalu memacu kudanya. Dan gadis itu pun menjadi milik raja.
“Kepala Jendral Nangnang, adalah suku han orang yang brutal. Ketidakpuasan di antara para imigran dari pertumbuhan Gojoseon”

Seorang petugas kerajaan mengumumkan raja mereka.
“Dengarkan rakyat yang bodoh! Keturunan generasi ke 15 Raja Han Liu Bang”seru petugas kerajaan. Raja Han pun berjalan ke depan dengan angkuh dan sombong.
“Paman dari kaisar Ping Di. Orang yang tanpa takut menyeberangi sungai Han. Orang yang datang untuk Nangnang adalah dia!Raja yang hebat tak tertandingi Raja Han!”lanjut petugas kerajaan. Rakyat pun mengelu-elukan Raja yang di dampingi para pejabat pemerintahannya.

Terlepas dari waktu hidup dibawa ke dunia dan menghilang di atas dunia. Aku sebagai bagian dari alam, berada di rahim ibuku, Mo Haso dan Rae Hee berada di rahim Wang Ja Shi”cerita Ja Myung.

Raja Han dan Jendralnya berjalan-jalan keluar istana dengan arak-arak pengawalnya, ketika melewati jalan kuil, ia berhenti sejenak ketika dilihatnya seorang wanita cantik berdiri membungkuk memberinya hormat. Wanita itu tak lain adalah ibunya Ja Myung yang sedang mengandung dirinya.
“Berhenti di sini!”teriak Raja Han. “Ini adalah wanita cantik, kirim dia kepadaku setelah melahirkan”ujar Raja Han ketika memperhatikan Mo Haso. Mo Haso pun terdiam.
“Dia istri dari Jendral Kiri, Chae Ri”ujar salah satu menteri Raja.
“Benarkah?”tanya Raja Han.
“Istri keduanya lebih cantik dan seksi”ujar Jendral membisikkan pada Raja.
“Keseksian akan menjadi kriteria untuk anak perempuan di jalanan, namun keanggunan yang pertama jika dia adalah seorang wanita dalam keluarga besar. Selain itu, daya tarik wanita tergantung pada siapa ia bisa bertemu di tempat tidur”ujar Raja Han (Raja dodol memerintah dengan kejam suka main wanita lagi wkwkkw tapi tenang hidupmu tak akan lama hohoho). Mo Haso pun mendengarkannya dengan jijik.

“Ny. Wang bukan tipe wanita yang seperti Raja katakana”sahut peramal Tae Sa Ryung.
“Oh, bahkan sekarang Tae Sa Ryung! Wanita macam apa dia?”tanya Raja.
“Membandingkan dengan bulan, ia adalah terang bulan yang mengisi laut”jawab peramal.
“Kamu menjauhkan diridari wanita dan hanya mengamati benda-benda langit. Bahkan kamu terpesona dengan keindahan Wang Ja Shi ya!”ledek Raja
“Yang Mulia”ujar peramal.
Lalu raja mengambil setangkai mawar merah dan melemparkannya ke dekat Mo Haso. Mo Haso terhenyak kaget namun dengan enggan ia pun member hormat.
“Saya merasa terhomat raja”ujarnya.
“Wajahmu lebih indah, Chae Ri beruntung”ujar Raja lalu member perintah melanjutkan perjalanan. Raja dan rombongannya pun melanjutkan perjalanannya. Mo Haso menoleh ke arah raja dengan penuh kebencian yang tertahan.

Di tepi laut istri Chae Ri yang lain, yang tak lain adalah Wang Ja Shi menyelam ke dalam laut padahal dalam kondisi hamil ditemani pelayan setianya.
“Nyonya, air dingin, Ayo keluar sekarang. Nyonya!”bujuk pelayan setia Wang Ja Shin melihat nyonyanya terus menyelam ke dalam air. Wang Ja Shin pun tidak mendengarkan bujukan pelayannya ia malah makin menjauh dan menyelam. (Karena hal ini mungkin nanti ketika Rae Hee bayi walaupun di ceburin ke dalam kolam air nggak mati hehehe, dah tahan banting sejak dalam kandungan dah diajarin nyelam hehehe).

Kembali ke Mo Haso, ternyata Mo Haso menginjak mawar pemberian raja.
“Ew, Cih! Raja macam apa itu! Ew, celaka menjijikkan!”omel pelayan setia Mo Haso.
“Saat kamu berjalan di jalan, kamu lihat anjing, sapi, kotoran waktu adalah seperti itu. Lupakan tentang hal itu. Dia katakana seperti itu. Apa yang aku tidak bisa lakukan?”ujar Mo Haso pada pelayan setianya memberi pengertian.

Sementara itu Wang Jang Shi kembali dari menyelam dengan membawa abalone. Para pelayannya pun segera menghampirinya dan memberinya handuk.
“Lihat apa yang aku temukan. Ini adalah abalone besar. Aku akan makan sup ini”ujar Wang Jang Shi pada pelayan setianya.
Pelayan setianya pun mengambil abalone itu dan menyuruh pelayan lain memasaknya.
“Anda hamil, bagaimana jika bayi jatuh ke dalam air?ujar pelayan setia Ny. Wang.
“Jangan khawatir tentangku. Aku melakukan ini untuk kemudahan proses persalinan. Aku sudah berenang di sungai Yulsoo ini sejak lahir untuk menikah”ujar Ny. Wang (bu dokter, emang bener ya?)

“Jika anda menginginkan persalinan mudah, anda harus makan dan tidur nyenyak. Jaga kesehatan anda, anda malah naik kuda dan berenang”terang pelayan Ny. Wang.
“Kamu harus menggerakkan tubuh anda untuk proses persalinan dengan mudah, bodoh”ujar Ny. Wang mengajari pelayannya. Pelayannya pun tersenyum.
“Walaupun aku istri kedua dia, bayiku akan menjadi anak tertua dari yang lainnya. Dengan segala cara, aku harus melahirkan sebelum Mo Haso”ujar Ny. Wang penuh ambisi pada pelayannya.

Mo Haso dan pelayan setianya masuk ke sebuah kuil yang penuh debu dan sawang. Mo Haso pun segera melepas syalnya dan membersihkansawang-sawang itu, tapi pelayan setianya melarangnya.
“Biar saya saja yang melakukannya Nyonya. Silahkan istirahat beberapa saat”ujar pelayan setia Mo Haso. Tapi Mo Haso tetap membersihkan debu-debu dan sawang-sawang itu sendiri.
“Dengan tanganku sendiri, sendiri berarti hal ketulusan”ujar Mo Haso seraya membersihkan sawan kembali.

Di lain tempang Ny. Wang berbaring di tempat tidur dibantu pelayannya.
“Anging sangat dingin, kenapa anda tidak pulang?”tanya pelayannya.
“Diam. Hal ini menjengkelkan”ujar Ny. Wang. Pelayannya pun terdiam dan tersenyum lalu membenarkan selimut Ny. Wang. Ny Wang pun tertidur.
Sedangkan Mo Haso dan pelayannya berlutut berdoa pada dewa dengan tempat yang sudah bersih.
“Anak surga, Raja Dangun kami, istri Chae Ri yang berdoa, saya menikah pada tujuh tahun dan saya telah hidup 25 tahun dengan dia. Tapi tetap saja saya belum bisa memberinya anak laki-laki. Harapan saya, saya memiliki bayi yang sehat baginya. Bahkan jika saya melahirkan seorang anak perempuan”ujar Mo Haso pada dewa tapi tiba-tiba dipotong oleh pelayan setianya.
“Seorang perempuan? Apa perempuan ? untuk Tuan?”seru pelayan setianya. Mo Haso pun memberi kode pada pelayannya untuk diam. Lalu Mo Haso pun melanjutkan doanya.
“Jika saya memiliki anak perempuan, tolong beri adik Wang Ja Shi anak laki-laki dan biarkan suami saya senang”pinta Mo Haso. Lalu ia berdoa dengan kyusuk tiba-tiba ia jatuh tertidur di pundak pelayannya.
“Nyonya?”ujar pelayannya.
“Aku tidak tahu mengapa aku begitu mengantuk. Apakah karena dupa?”tanya Mo Haso.

Wang Ja Shi dalam mimpinya ada disuatu kamar yang megah, tiba-tiba dari arah jendela bersinar matahari yang terang, dan matahari itu masuk ke dalam perut Wang Ja Shi. Wang Ja Shi pun merintih kesakitan.

Sebaliknya Mo Haso tertidur dalam kamar yang megah, tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara petir. Tiba-tiba dari arah jendela datang seorang anak perempuan membawa sebongkah matahari. Mo Haso pun menghampirinya.
“Apa yang kamu lakukan sekarang?”tanya Mo Haso.
“Matahari jatuh di kebunku. Di sini terlalu gelap jadi aku akan mengirim kembali ke rumahnya”jawab anak perempuan itu.
“Jika harus seperti itu. Aku akan membantumu. Terlalu sulit bagi seorang anak”ujar Mo Haso.
“Ahjuma, tidak dapat membantu itu”ucap anak itu. Lalu anak itu melepaskan bongkahan mataharinya dan matahari itu pun menghilang.
Mo Haso pun menghampiri anak itu dan memegang tangannya.
“Anak kecil, biarkan aku melihatnya, pasti sangat panas, mari biarkan aku mengoleskan sedikit minyak ikan”ujar Mo Haso.
“ahjumma, bisakah aku hidup dalam dirimu?”tanya anak itu. Mo Haso pun bingung apa maksud anak itu.
“Apa?”tanyanya. Lalu anak itu mendekat ke arah Mo Haso dan Mo Haso memeluknya lalu anak itu masuk ke dalam tubuh Mo Haso, Mo Haso pun merintih kesakitan.
Mo Haso pun terbangun dari mimpinya. “bayiku”pekik Mo Haso seraya bangkit dari pundak pelayannya.
“Apakah anda bermimpi?”tanya pelayannya. Mo Haso terdiam tidak menjawab ia hanya melihat ke arah dewa

Sementara itu Wang Ja Shi dalam tidurnya mengigau dan banyak mengeluarkan keringat. Pelayannya yang menungguinya sambil menyulam memanggilnya.
“Nyonya, Nyonya”panggil pelayannya, karena tidak menyahut-nyahut pelayannya pun membangunkannya.
“Dapatkah sekarang anda bangun?”seru pelayannya. Wang Ja Shi pun terbangun lalu bola matanya melirik ke sekelilingnya lalu ia bangun, dan pelayannya pun membantunya duduk.
“Apakah anda bermimpi buruk?”tanya pelayannya. Wang Ja Shi tidak menjawab apa-apa ia malah tertawa terbahak-bahak. Pelayannya jadi bingung dan agak takut.
“Anda menakutkan, nyonya”ujar pelayannya.

“Aku selalu percaya pada naluriku. Aku sudah hidup seperti ini, aku jelas merasa aku tidak seharunya menjadi istri kedua seorang pria. Lalu kenapa aku menikah dengannya ketika dia sudah memiliki Mo Haso?”ujar Wang Ja Shi.
“Mungkin karena ia tampan?”jawab pelayannya.
“Aku kan melahirkan bayi yang besar. Anak ini akam menjadi Raja Nangnang. Ibu percaya padamu”ujar Wang Ja Shi seraya mengelus-elus perutnya. (jadi penghianat Negara iya wkkwkwk).
“Jangan mengatakan sesuatu yang akan menimbulkan masalah”seru pelayannya.
“Jika abalone sudah dimasak, bawa dan aku akan memimumnya”perintah Ny. Wang.

Sementara itu di istana Goguryeo. Hodong kecil berlari-lari ke arah ibunya membawa belalang seraya memanggil-manggil.”Ibu” Hodong kecil pun sampai di tempat rombongan ayah dan ibunya, para pelayan membungkuk memberi hormat.
“Ibu, ini”ujar Hodong sambil menunjukkan belalang yang dibawanya.
“Oh Wow. Ini adalah belalang. Hodong, kau memberikan ini untuk ibumu?”tanya permaisuri. Hodong pun mengangguk tersenyum.
“Terima kasih”ucap permaisuri. Tiba-tiba adik Raja Muhyul, Yeorang menyeletuk.

“Anda memiliki bentuk wajah yang unik”seru Yeo Rang.
“Putri, apa yang kamu katakan?”tanya Permaisuri.
“Bibir anda yang manis di sini adalah seperti sebuah untaian titisan air yang membeku”jawab Yeo Rang sambil menunjuk ke arah matanya. Permaisuri pun berwajah kesal, Raja Muhyul pun menegur adiknya.
“Yeo Rang”seru Raja Muhyul.
Permaisuri segera mencari muka, ia segera meminta maaf pada Hodong.
“Pangeranku, jika aku melakukan itu, Ibumu ini menyesal. Di dunia ini, semua butuh belajar. Aku pikir aku perlu belajar lebih banyak menjadi ibu. Tolong mengerti”ujar Permaisuri penuh senyum pada Hodong.
“Yah tidak mudah membesarkan anak orang lain tanpa memiliki anak sendiri”ujar Yeo Rang. Wajah permaisuri pun berubah jadi masam kembali.

“Orrabuni, terlepas dari kelahiran pangeran dengan rendah hati, seorang wanita tetaplah seorang wanita. Hanya seorang wanita yang dihargai dan dicintai bisa mencintai orang lain”jelas Yeo Rang.
“Bukankah begitu kakak ipar?”tanya Yeo Rang pada permaisuri.
Permaisuri pun melempar senyum ke arah Hodong lalu ia berdiri.
“Aku dihargai yang Mulia saja sudah cukup”ujar Permaisuri (lain dimulut lain dihati ni permaisuri weks)
“Omong-omong, mengapa kau belum memiliki anak meskipun kamu memiliki seseorang disisimu?”tanya Raja Muhyul pada adiknya Yeo Rang.
“Itu pasti salah satu dari dua alasan. Dia mungkin tidak subur”jawab Yeo Rang.
Raja Muhyul mendesah dan berkata,”Ini tidak akan dilanjutkan, tutup mulutmu”
“Kita harus terus berbicara apa yang kita bicarakan tentang itu. Karena kakak membawanya ke seluruh medan perang, ia tak punya waktu untuk mengunjungi kamarku. Aku benar kan?”tanya . Raja pun hanya tersenyum.

Tiba-tiba Mentor Hodong (Eul Doo Ji) dan suami Yeo Rang datang tergesa-gesa.
“Yang Mulia, Yang Mulia”seru kedua orang ini.
“Aku bilang dia tidak cocok menjai seorang bangsawan”ujar Yeo Rang melihat suaminya datang tergesa-gesa begitu.
“Yang Mulia”seru suami Yeo Rang namun terhenti. “Ya, …. Kamu saja yang katakan”ujar suami Yeo Rang pada Eul Doo Ji.
“Mata-mata kami di Nangnang telah mengirimkan sebuah elang (zaman ini pengiriman surat via nburung elang bukan kantor pos hehehehe)”ujar Eul Doo Ji.
“Elang?”tanya Raja.

Raja dan kedua menteri tadi pergi ke sebuah bukit bersama Hodong kecil.
“Jadi ada perselisihan internal di Nangnang”tanya Raja Muhyul.
“Banya orang meninggal karena kelaparan disebabkan oelh banjir yang tak sesuai musim di daerah sungai Paesoo di Nakrang. Namun Yoohun memeras orang-orang di ulang tahun pelantikannya yang ke 30. Dan akhirnya pemberontakan pecah”jawab Eul Doo Ji memberi penjelasan.
Raja Muhyul pun tertawa. “Itu adalah kekuatan. Itu sebabnya orang ingin menjadi raja”ujar raja Muhyul.
“Bukankah seharusnya raja yang baik untuk memberi makan orang-orang”ujar suami Yeo Rang.
“Memberi nasi saja tanpa tongkat tidak selalu menjadi aturan yang baik. Apakah seorang raja baik hati atau kejam, terserah Yoohun”ujar Raja Muh Yul.
Suami Yeo Rang pun menyela,”Yang Mulia”serunya.
“Jangan khawatir. Berarti aku akan menjadi kejam seperti itu. Pemberontakan tidak masalah untuk saat ini. Berharap Yoohun mengambil kesempatan ini untuk membunuh kedua orang itu?”ujar Raja Muh Yul.
“Dua orang, maksud anda Jendral Kiri Chae Ri d n Jenderal Kanan Wang Geng?”tanya Eul Doo Ji.

Raja Muhyul mengangguk. “Chae Ri adalah orang yang banyak akal dan Wang Geng orang yang berani. Jika kepala dan pedang bertemu, Goguryeo kita hanya akan menderita”seru Raja Muhyul.
“Pokoknya masalah Yoohun untuk saat ini”ujar suami Yeo Rang.
“Ini bukan matahari terbenam tapi matahari terbit yang panas. Ini hanya masalah waktu untuk Yoohun runtuh. Untuk dia datang merusak dan Goguryo akan menguasai Nakrang. Kita harus menyingkirkan keduanya (Chae Ri dan Wang Geng)”seru Raja Muhyul. Lalu raja Muhyul bertanya pada Hodong kecil.

“Hodong, kau megerti apa yang kami bicarakan?”tanya ayahnya.
“Biarkan aku menyingkirkan musuhmu. Kemudian ayah, anda akan mengambil Nakrang seperti mengambil kerang”jawab Hodong. Raja pun tertawa kedua menterinya.
“Anak laki-lakiku yang tampan dan cerdas”puji Raja.
“Itu karena guru telah mengajarkan padaku”ujar Hodong lalu ia membungkuk memberi hormat pada Eul Doo Ji.
“Anda terlalu banyak memuji saya, Pangeran”ujar Eul Do Ji seraya memberi hormat balik.
Raja Muhyul tertawa.”Siapa yang bisa membuatku lebih bangga daripada kamu?”ujar Raja lalu raja mengangkat Hodong.
“Anakku yang tampan”puji Raja seraya mengayun-ayunkan Hodong. Hodong pun tersenyu manis lalu Raja mengecup pipinya. (ayah anak yang bahagia gedenya tragis !_!)

Di lain tempat permaisuri yang berpakaian biasa menemui ayahnya ditemani beberapa pengawal dan dayang setianya.
Ayahnya pun menyambutnya dengan bahagia, dan permaisuri mendekap ke pelukan ayahnya. Mereka pun masuk ke dalam tenda.

Permaisuri menemui ayahnya. Permaisuri dan ayahnya masuk ke dalam tenda bersama pelayan setianya. Di dalam tenda telah disiapkan masakan yang lezat untuk permaisuri.
“Baunya seperti di rumah”guman permaisuri mencium aroma hidangan masakan di depannya lalu ia pun mulai mencicipinya.
“Tentu saja ini adalah masakan ibuku”ujar permaisuri setelah mencicipi makanannya.
“Semua jenis hidangan besar di istana harus lebih baik daripada memasak di rumah”seru ayahnya.
“Semua yang aku makan di istana seleranya seperti serbuk gergaji” keluh permaisuri.
“Apakah sulit bagi Anda, yang mulia?”tanya ayahnya.
“Lebih dari yang bisa ayah bayangkan…aku ingin pulang”jawab permaisuri seraya menahan tangisnya yang hampir tumpah.

Melihat gelagat anaknya yang tidak baik ini, ayahnya segera menyuruh pelayan setia permaisuri keluar.
“Yandan, kamu bisa menunggu di luar”ujar ayah permaisuri.
“Ya, Gochooga (gelar yang diberikan pada anggota royalty di Goguryeo)”jawab pelayan Yangdan (nama pelayan setia permaisuri ) lalu ia bergegas keluar ruangan.
“Jangan mengecewakan aku seperti seorang gadis kecil”teriak ayahnya.
“Ayah”seru permaisuri.
“Alasanku mengutusmu untuk Muhyul bukan karena kau adalah putriku. Aku belum pernah melihat seorang wanita di Biryoonabu cantik, kuat dan cerdas sepertimu”jelas ayah permaisuri.
“Aku pikir aku yakin bahwa aku bisa memikat siapa pun dan membuat siapa pun bertekuk lutu di hadapanku, jika aku ingin. Tapi itu tidak benar, aku kalah”keluh permaisuri.
“Jika Muhyul tidak suka laki-laki, bagaimana bisa ia menutup mata dengan seorang wanita cantik sepertimu?”tanya ayah permaisuri.
“Hal ini bukan karena dia. Hal ini karena Hodong. Yang menjadi sainganku di sisinya bukanlah selir kerajaan maupun wanita yang cantik di istana halaman belakang. Tapi Hodong ”jelas permaisuri.
Air muka ayahnya pun berubah. “Aku akan menjadi ratu Raja Goguryeo dan istri orang besar Muhyul. Ketika aku mempercantik diri dan menyeberangi Majasoo (Sungai Yalu, Amnokgang). Aku tidak pernah berharap untuk bersaing dengan anaknya. Apa nasib!”lanjut permaisuri.
“Beri dia seorang putra. Seorang anak terakhir akan dihujani kasih saying orang tuanya. Muhyul tidak terkecuali. Raja Goguryeo berikutnya adalah cucuku”seru ayahnya memberi saran.
“Bisakah aku mempunya anak sendiri? Bahkan di kamarku ….”seru permaisuri tapi terpotong. (hampir saja permaisuri kelepasan bicara kalau selama ini dia masih suci karena Muhyul belum menyentuhnya sama sekali hehehe).

Ayahnya pun sedikit bingung dengan kata-kata permaisuri ini apa maksudnya.
“Aku akan pergi sekarang”ujar Permasirui pamit.
“Hodong berusia tujuh tahun sekarang”ujar ayahnya. Permaisuri pun menghentingkan langkahnya.
“Apakah anda pikir aku tidak tahu umurnya?”seru permaisuri.
“Tidak mudah untuk mengambil kendali jika ia tumbuh lebih dewasa. Jika ia menjadi raja, Klan Biryunabu akan mati”jelas ayahnya.
“Aku tidak berpikir aku bisa melahirkan anak”ujar permaisuri putus asa.
“Kamu harus!“teriak ayahnya.
“Ayah!”seru permaisuri.
“Aku kepala empat ratus orang klan Biryunabu. Untuk melindungi klan Birnyunabu jika perlu aku harus membunuh anak tercinta sendiri “ujar ayahnya. Permaisuri pun sedikit kaget. Lalu ayahnya menghampiri permaisuri dan menggenggam tangan permaisuri.

“Aku percaya padamu. Mae Sul Soo”ujar ayahnya.
Permaisuri pun melepaskan tangannya, “Beritahu ibuku aku sangat merindukannya”serunya lalu melangkah pergi.

Permaisuri pun memacu kudanya diikuti pengawalnya kembali ke istana. Permaisuri Mae Sul Soo terngiang-ngiang kata-kata ayahnya, bahwa jika diperlukan untuk melindungi klannya ia bisa membunuh anaknya sendiri. Permaisuri pun semakin memacu kudanya.

Di istana Nakrang, Raja Han mengumumkan keputusannya.
“Aku telah membuat keputusan. Jeung Ji, Tan Yul, Jum Je, Yul Goo, Doo Nyoo, Gee Mang. Aku akan menghukum enam Hyuns (kabupaten) yang terlibat dalam pemberontakan. Laki-laki di enam kabupaten yang mengambil bagian dalam pemberontakan itu, bahkanjika itu hanya sekali akan terikat bersama dan di makamkan di laut kuning dan sisanya akan di jual sebagai budak untuk Liao Dong dan Hyundo. Dan di antara gadis-gadis , pilih yang cantik dan kirim mereka ke gedung imperial dan kantor tinggi Chang An sebagai wanita penunggu. Dan yang jelek, cukur kepala mereka dan suruh bekerja di pabrik budak sampai mati”seru Raja Han member instruksi ( gimana rakyat nggak memberontak lha rajanya aja kejam kayak gini weks).
“Sungha Yoo umum di Chang An sekarang Chae Rid an Wang Geng yang akan bertugas membasmi pemberontak. Jenderal Kiri Chae Ri dan Jenderal Kanan Wang Geng, ikuti perintah ku!”seru Raja.

Kedua Jenderal Chae Ri dan Wang Geng pun melangkah maju dan berlutut menerima perintah.
“Aku perintahkan,jenderal Kanan Wang Geng, pergi ke Jeung Ji dan Tan Yul membawa 1500 tentara dan membasmi pemberontak”seru Raja Han pada jenderal Wang Geng.
“Saya menerima perintah yang mulia. Aku akan membasmi pemberontakan dan mencegah kemungkinan provokasi Goguryeo”jawab Jenderal Wang Geng. Sedangkan Jenderal Chae Ri merasa muak mendengar permintaan raja Han ini.
“Aku senang kamu mengatakan begitu dengan yakin”ujar raja Han.
“Jenderal Chae Ri memimpin 3000 prajurit membasmi pemberotakan dari empat kabupaten, Jum Je, Yul Goo, Doon Yoo dan Gee Man dan mengungkapkan pemimpin yang berbahaya. Masukkan mereka ke sebuah perahu yang bocor dan tenggelamkan ke laut kuning!”perintah Raja pada jender al Chae Ri.
Namun Jenderal Chae Ri terdiam tanpa menjawab apa-apa, ia pun ditegur salah seorang menteri.
“Bagaimana anda tidak bijaksana! Anda harus menjawab perintah Raja”seru menteri itu.
“Tuanku, mereka melompat-lompat dari 3 makanan membuat anda memanjat tembok tetangga . melompat-lompat dari tiga hari karena makanan membuat anda merampok gudang kantor pemerintah. Dan melompat-lompat dari sepuluh hari tanpa makanan membuat anda memakan anak sendiri. Pemberontakan ini disebabkan oleh kelaparan. Jika anda meninggalkan keenam kabupaten tidak akan ada yang tersisa untuk melayani anda”ujar Chae Ri dengan berani.
“Apa yang kau katakana. Cepat minta maaf”seru Wang Geng pada Chae Ri.
Raja pun melangkah maju ke depan Chae Ri yang berlutut.
“Aku bertanya pada Chae Ri”seru Raja Han.
“Hamba, Chae Ri akan mendengarkan kata-kata Yang Mulia”ujar Chae Ri.
“Apakah kamu suku Han atau suku Joseon?”tanya Ra Han. Jenderal Chae Ri pun bingung harus jawab apa.
“Kakekmu sudah menjadi pelayan Han sejak kekaisaran dulu. Jawab aku”pinta Raja. Namun Chae Ri masih terdiam.
“Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku minta? Apakah kamu suku Han atau suku Joseon?”ulang Raja Han kembali.
Namun Chae Ri masih terdiam lalu Wang Geng pun berusaha membantu Chae Ri.
“Yang Mulia, apa yang anda bicarakan? Tentu saja ia adalah seorang hamba setia anda dan….”ujar Wang Geng namun terpotong.
“Aku bertanya kepadanya , bagaimana kamu berani berbicara ketika aku tidak memintamu?”hardik Raja Han.
“Hamba telah bersalah pada Anda, Silahkan penggal kepala hamba” ujar Wang Geng lalu menundukkan kepala ke lantai.

Raja pun menengok ke arah komandan perang lainnya dan memberi kode untuk maju, komandan itu pun maju dengan pedang siap di tangan.
“Biacara sekarang, hidupmu ada pada jawabannya. Apakah kamu suku Han atau suku Joseon? “tanya Raja Han kembali.
Chae Ri masih terdiam, Raja pun memberi kode pada komandan yang bersiap tadi. Komandan itu pun semakin maju.
“Apakah kamu orang ku atau mata-mata untuk pemberontakan itu?”tanya Raja.
Tapi Chae Ri masih tetap terdiam. Raja pun memerintahkan supaya memenggal kepalanya. Komandan pun bersiap mencabut pedangnya namun tiba-tiba Chae Ri menjawab pertanyaan Raja.
“Hamba akan menerima perintah anda”ujar Chae Ri.
“Apakah kamu berbicara jujur?”tanya Raja Han.
“Ya, Yang Mulia”jawab Chae Ri.
“Aku akan bertanya lagi, apakah kamu suku Han atau suku Joseon?”tanya Raja Han.
Chae Ri pun meminta maaf atas kata-katanya tadi lalu ia mulai menjeduk-jedukkan kepalanya berkali-kali sebagai tanda minta maaf dan bukti kejujurannya.

Jenderal Chae Ri pulang memacu kudanya ia mampir ke kuil . Ia memandang lukisan leluhurnya lalu bersimpuh.
“Aku tidak menyerah karena aku takut mati. Ini karena jika aku mati seperti anjing, aku tidak bisa menyelamatkan rakyat Joseon. Adapun sampai saat ini keberadaanku di Joseon sampai mengakar”ujar Chae Ri lalu meneteskan air mata.

Sementara itu Raja Han makan-makan di iringi musik bersama peramal dan menteri setianya.
“inilah sebabnya, apakah 100 tahun atau 200 tahun berlalu kita tidak bisa mempercayai seseorang dari Joseon”seru Raja.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia?”tanya menteri.
“Bunuh Chae Ri”jawab Raja.
“Sekarang bukan waktunya. Dia sudah mengumpulkan pasukan berjumlah 4500 orang”ujar menteri.
“Ada yang mengatakan, jika bibirmu hilang gigi akan hilang juga, tidak bisa tidur dengan kucing di istanaku. Chae Ri, Chae Ri Bajingan!”seru Raja penuh amarah.
Tiba-tiba ada kasim masuk. “Yang Mulia”serunya.
“Aku bilang tidak ada orang yang boleh datang masuk”seru menteri. Tapi Kasim itu menyampaikan pesan bahwa peramal mendapat wangsit mengenai kehancuran Nang Nang. Raja pun menggebrak meja dengan kesal.

Kembali ke Jenderal Chae Ri, ia mempersembahkan darahnya dan bersumpah di hadapan kuil leluhur.
“Yang Mulia Tae Ha Lyung, hamba meminta pada anda membawa kembali Joseon seperti sebelumnya. Karena itu hamba mengorbankan darah hamba”seru Chae Ri.
Wang Gen yang sudah masuk ke kuil pun berseru,”Aku juga ingin mengorbankan darahku sama sepertimu”seru Wang Geng seraya duduk di sebelah Chae Ri.
“Benarkah?”tanya Chae Ri.
“Kamu suami adikku dan dua puluh tahun kita bersahabat dan kita berbagi darah yang sama Joseon. Aku akan menambahkan darahku”ujar Wang Geng lalu menyiapkan tanganya di atas cawan yang telah berisi tetesan darah Chae Ri.
Chae Ri pun meletakkan pisau di telapa tangan Wang Geng dan Wang geng pun membesutkan tangannya ke pisau itu dan mengucurlah darah segar jatuh bercampur dengan darah Chae Ri.

Raja menemui peramal seraya mengamati bintang.
“Putri Chae Ri akan mengancurkan Nang Nang?tanya Raja Han pada peramal. Peramal itu pun menjelaskannya sambil menunjuk ke arah bintang.
“Cukup dengan omong kosong yang membuat sakit kepala iu dan katakana itu dengan jelas! Untuk memastikan bahwa Putri Chae Ri akan membuatku dalam bahaya”seru Raja Han.
“Aku yakin hidupku di atasnya. Besok sebelum matahari terbit, dua anak perempuan akan lahir”ujar peramal (dimana-mana drama saeguk nggak lepas dari ramalan ya hehehe, ada nggak drama saeguk yang nggak ada peramalnya? QSD, Jumong, KOTW, Dong Yi,Kim Suro, dll).
“Kalian dengar Sung San dan Tae Goon?”tanya Raja Han pada pengikutnya yang berada di bawah.
“Ya, Yang mulia”jawab mereka.
“Karena kita tidak bisa membunuh Chae Ri sekarang, kita akan membunuh kedua putrinya bukan? Pergi dan katakan padanya”perintah Raja.
“Perintah anda akan hamba penuhi, Yang Mulia”ujar menteri.

Sementara itu di kediaman Chae Ri, tepatnya kamar Wang Ja Shi. Wang Ja Shi pulang ke rumah dari penyelamannya. Ia pun bersiap-siap istirahat dibantu pelayan setianya.
Wang Ja Shi duduk beristirahat. “Apa yang terjadi?”tanya pelayannya.
“Terlalu lelah”jawab Wang Ja Shi.
“Anda menyelam di air terlalu lama. Berbaring sebentar”ujar pelayannya seraya membantu Wang Ja Shi berdiri. Wang Ja Shi pun berjalan menuju ranjang namun pelayan setianya melihat bercak darah di bajunya.
“Nyonya”seru pelayannya. Wang Ja Shi pun menoleh ke belakang.
“Sudah saatya anda akan melahirkan”ujar pelayannya.
“Pergi dan beritahu semuanya”seru Wang Ja Shi seraya tersenyum.
“Ya”jawab pelayannya.

Di lain tempat. Mo Haso senang mendengar kabar bahwa Wang Ja Shi akan melahirkan.
“Ada tanda bahwa dia akan melahirkan”tanya Mo Haso senang pada pelayan setianya.
“Tidak ada yang membuat anda bahagia. Anda mungkin akan kehilangan tempat anda”ujar pelayan setianya.
“Jangan mengatakan kata-kata sia-sia. Aku harus pergi ke kediamannya”seru Mo Haso seraya mengulurkan tangannya minta dibantu berdiri.
Pelayannya pun membantunya berdiri, namun saat Mo Haso berdiri ia merasakan air ketubannya pecah. Ia pun menoleh ke tempat tidur dan dilihatnya tanda itu. Ia pun tersenyum bahagia.
“Air ketuban anda pecah, anda mungkin akan melahirkan yang pertama. Tunggu sebentar, aku akan memanggil tabib”ujar pelayan setianya. Mo Haso pun kembali duduk di ranjang dan pelayannya pergi memberitahu yang lain.
“Apakah ada orang di sana? Air ketuban nyonya sudah pecah”serunya seraya pergi.
Mo Haso mengelus-elus perutnya, “Bayi, aku akan segera melihatmu”gumannya.

Peramal dan Jendral beserta menteri kepercayaan Raja Han menuju rumah Chae Ri, sedangkan Chae Rid an Wang Geng sedang berdiskusi tentang pemberontakan yang akan mereka lakukan.
“Aku akan memukul, sementara aku mengecoh mereka dengan cara yang salah”tanya Wang Geng.
“Ini harus dilakukan seperti itu”jawab Chae Ri. Wang Geng pun mengangguk mengerti.
“Kita akan pergi setelah pekerja”ujar Wang Geng.

Pelayan setia Wang Ja Shi menyiapkan makanan. “Silahkan makan ini. Ini adalah daging babi”ujar pelayanya seraya menyerahkan makanannya.
“Bawa pergi, ini bukan waktunya makan itu”ujar Wang Ja Shi.
“Anda harus makan sesuatu untuk kekuatan. Anda harus makan ini untuk bayi anda agar keluar bagus dan mulus karena dipenuhi dengan minyak”bujuk pelayannya.
“Omong kosong. Apakah masuk akan makan daging babi sebelum melahirkan? Bayi tidak keluar dari tenggorokanku”omel Wang Ja Shi tidak percaya. Tapi pelayan setianya terus tersenyum membujuk. Wang Ja Shi pun mengambil potongan daging babi itu dan memakannya. Ia pun merasa eneg dan mau muntah tapi di tahannya dan tetap berusaha mengunyah makanan itu.

Di lain tempat Mo Haso terbaring ditemani kakak pelayan setianya. Pelayan setianya ini menyeka keringat Mo Haso. Pelayan setia yang satunya lagi pun muncul membawa minuman.
“Silahkan minum ini, ini akan membantu”ujar pelayannya seraya menghampiri Mo Haso.
Kakak pelayan setia Mo Haso pun membantu Mo Haso bangun seraya menyerahkan semangkuk minuman tonik.
“Aku tidak menginginkannya”ujar Mo Haso.
“Tidak peduli apa, anda harus minum sesuatu untuk kekuatan melahirkan”bujuk kakak pelayan setia.
“Itu adalah hak nyonya. Hanya minum satu tegukan, hanya satu”pinta pelayan setia Mo Haso.
Mo Haso pun mencoba meminumnya namun tiba-tiba ia mengerang kesakitan.

Sementara itu jendral utusan Raja Han telah sampai di kediaman Chae Ri, mereka akan masuk ke dalam namun terhalang. Di depan pintu tertulis papan pengumuman.
“Di larang masuk, para pekerja sedang bekerja. Apa yang….”seru Jendral suruhan Raja Han seraya melepas papan pengumuman itu.
“Buka pintu, Aku mmebawa perintah Raja”teriak Jendral.

Chae Ri dan Wang Geng pun kaget mendengar teriakan itu.
“Apa yang terjadi?”tanya Wang Geng. Chae Ri pun terdiam dan berpikir sesuatu.
Chae Ri menemui jendral pembawa pesan. Chae Ri pun bersujud dua kali lalu berkata,” Aku Chae Ri, siap untuk mendengarkan perintah Raja.

Menteri utusan Raja Han pun membacakan perintah Raja.
“Raja berkata itu nasib yang keluar dari darahmu. Raja akan mendengarkan langit dan memutuskan untuk membunuh anak-anakmu”seru menteri pembawa pesan.
“Bagaimana kau bisa bilang begini!”seru Chae Ri.

“Ini perintah Raja! Mengapa kau memotong”hardik Jendral utusan Raja Han.
“Hari ini, jika kedua anakmu yang lahir perempuan. Ini adalah dosamu memiliki anak perempuan tersebut sehingga kamu akan membunuhnya dengan tanganmu sendiri”jelas menteri utusan Raja.
“Aku masih tidak tahu apakah bayiku akan menjadi anak laki-laki atau perempuan. Apakah yang kalian katakan”seru Chae Ri.
“Tidak ada anak untukmu”seru peramal.
“Dengan tanganmu sendiri, bunuh mereka!”seru menteri. Namun Chae Ri terdiam.
“Kenapa kau tidak menjawab?”tanya menteri lagi. “Raja berkata jika Chae Ri tidak menerima perintah Raja. Tak seorang pun dalam keluargamu akan hidup”lanjut menteri.
Chae Ri terdiam, ia teringat sumpahnya di kuil leluhur bahwa ia akan membunuh Raja dan mengambil alih Nang Nang. Chae Ri pun bersujud memberi hormat, dan berkata,”Raja, hamba akan menerima perintah anda. Jika bayiku memang anak perempuan, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri”serunya.

Pelayan setia Mo Haso pun melapor isi perintah Raja Han pada Mo Haso. “Apa yang kamu bicarakan?”seru kakak pelayan setia Mo Haso. Mo Haso terlonjak kaget mendengar penuturan pelayannya.
“Anda haru melahirkan bayi laki-laki”pinta pelayan setia Mo Haso. Mo Haso pun terdiam.

Sementara itu para utusan Raja Han menunggu dengan gelisah di depan kediaman Wang Ja Shi.
Wang Ja Shi berusaha melahirkan di bantu pelayan setianya.
“Tolong, itu harus laki-laki. Jika tidak bayi ini akan mati”ujar pelayan setia Wang Ja Shi.
“Ayolah, ini harus laki-laki”seru Wang Ja Shi seraya mengejan lalu ia berteriak. Lalu terdengar suara tangisan bayi.
Jenderal utusan Raja Han pun tersenyum sinis dan bertanya, “Apakah laki-laki atau perempuan?”
Pelayan setia Wang Ja Shi pun menggendong bayi yang telah lahir dan duduk disebelah Wang Ja Shi.
“Tentu saja anak laki-laki, kan?”tanya Wang Ja Shi.
Pelayannya hanya terdiam dan memandang sedih ke arah nyonyanya.
“Mengapa kau tidak mengatakan apa-apa. Bukankah anakku?”ujar Wang Ja Shi.
Pelayan setianya tetap terdiam ia mendekap bayi yang terus menangis. Wang Ja Shi pun mengambil bayi itu dari gendongan pelayannya dan mengecek sendiri bayi itu laki-laki atau perempuan. Ia pun terdiam kaget melihat kenyataan bahwa bayinya perempuan. Pelayan setianya pun menangis.
“Cepat. Mengapa kau tidak mengatakan apa-apa? Apakah bayi itu anak laki-laki atau perempuan?”tanya Jenderal utusan Raja Han lagi. Sedangkan peramal melihat kea rah langit dari atas balkon.
Jenderal utusan Raja beserta seorang pengawal berusaha membuka pintu yang ternyata terkunci dari dalam.
“Pintu tidak akan terbuka”ujar pengawal.
“Tendang dari bawah dengan kakimu. Dapakah kamu melakukan itu?”seru Jenderal.
“Katakan itu adalah laki-laki”seru Wang Ja Shi yang masih di dalam kamar.
“Bagaimana kita bisa mengatakan itu, mereka akan segera mencari tahu?”ujar pelayan setianya.
“Lakukan seperti yang aku katakan. Apakah peramal datang?”seru Wang Ja Shi.
“Ya, dia di taman melihat bintang-bintang”jawab pelayannya.
Wang Ja Shi pun tersenyum lalu berkata,”bawa pakaian tercantikku dan makeup yang terang. Bawa juga parfum wangiku”serunya.
Pelayan setianya melihatnya dengan penuh kebingungan.

Chae Ri merenung di ruangan bersama Wang Geng.
“Bagaimana mereka datang sekarang? Jumlah mereka 30 orang. Itu mungkin 2 dari kita”ujar Wang Geng.
“Daripada anak-anakku, aku akan memilih menyelamatkan 30.000 orang kita”ujar Chae Ri dengan sedih.

Wang Ja Shi keluar kamar dengan pakaian seksi dan make up yang terang sesuai kata-katanya tadi. Ia menemui jenderal utusan Raja. Jenderal utusan raja pun terkaget-kaget melihat kecantilkan Wang Ja Shi.
“Seperti apa seorang wanita, yang baru melahirkan terlihat seksi?”guman Jenderal utusan Raja.
“Aku akan menganggap itu sebagai pujian”ujar Wang Ja Shi.
“Apa yang anda katakan”ujar pengawal mengingatkan.
“Ok, lalu anak itu laki-laki”tanya Jenderal.
“Ya, Tuan”jawab pelayan setia Wang Ja Shi.
“Dapatkah aku masuk ke dalam dan melihat?”seru Jenderal.
“Tabib yang membantu kelahiran masih di sini. Kami harus membersihkan kamar lalu aku akan menunjukkan anakku. Harap tunggu sebentar. Ini adalah cara tidak menunjukkan untuk pertama kali pada ayahnya”ujar Wang Ja Shin meyakinkan.
Jenderal pun berdehem, “Ok, selamat juga karena anak laki-laki. Aku akan menunggu sebentar”ujar Jenderal.
Wang Ja Shi pun memberi hormat lalu bergegas pergi di temani pelayan setianya menemui peramal.

Di dekat taman di lihat peramal sedang duduk mengamati bintang. Wang Ja Shi pun menyuruh pelayannya hanya mengantar sampai situ.
“Kembali dan jaga bayinya. Jangan biarkan orang lain masuk”seru Wang Ja Shi.
“Aku akan menjaga bayi itu dengan seluruh hidupku”ujar pelayan setianya lalu meletakkan lampunya di tanah dan bergegas kembali ke rumah. Wang Ja Shi pun menghampiri peramal.

Wang Ja Shi memberi hormat pada peramal. Peramal pun berdiri seraya berkata,” aku mendengar bahwa anda melahirkan anak laki-laki. Aku tahu mengapa anda ke sini, tapi itu tidak berguna”ujar peramal.
“Kau bilang suamiku tidak akan memiliki anak laki-laki?”tanya Wang Ja Shi.
“Tidak ada orang yang dapat melampui nasib binatang berkaki dua (lambang negara Nang Nang?)? Tidak ada anak untuk Chae Ri”jawab peramal.
“Nasib anakku tidak akan mati”seru Wang Ja Shi.
“Jangan terlalu keras kepala. Berikan putrimu”ujar peramal.
“Anak ini lahir dengan matahari merah. Jika anak ini seharusnya mati itu bukan akan datang dariku. Bagaimana seorang anak matahari mati sampai tak berdaya? Aku tidak percaya”seru Wang Ja Shi penuh percaya diri.
“Seharusnya tidak ada yang dilahirkan dengan matahari selain Raja”ujar peramal.
“Kau mengatakan tidak ada yang dapat mengubah nasib”seru Wang Ja Shi.
Peramal menahan Wang Ja Shi melanjutkan kata-katanya. “Saya kasihan melihat kenyataan bahwa anda harus kehilangan anak anda. Saya akan mempertimbangkan saya tidak mendengarnya”seru peramal.
“Dengan nama matahari surga, biarkan anakku tetap hidup”mohon Wang Ja Shi.
“Hanya ada satu matahari di Nang Nang yang tak lain adalah Raja”seru peramal.
“Aku akan memberikan semua keberuntungan suamiku”bujuk Wang Ja Shi.
Peramal pun tertawa lalu berkata.”itu adalah kata-kata syukur”ujarnya.
“Aku bahkan akan memberikan tanah yang telah diberikan ayahku”bujuk Wang Ja Shi lagi.
Peramal tua itu tertawa dan mengetuk-ngetuk meja,”Saya berusia 50 tahun. Kematianku mencapai setengah jalan . Dianggap mati dari pinggang ke bawah. Setengah bernapas, setengah mati seperti ini ketika anda berusia 50 tahun. Saya tidak memiliki keserakahan, usia itu telah berlalu. Angin malam dingin. Ini tidak baik bagi mereka yang baru saja melahirkan. Silahkan kembali sekarang”ujar peramal.
Mendengar kata-kata peramal itu Wang Ja Shi pun terpikir untuk menggunakan kecantikannya sebagai rayuan.
“Apakah libido mu setengah mati juga?”tanya Wang Ja Shi. Peramal pun kaget mendengar ucapannya lalu menoleh kea rah Wang Ja Shi.
“Aku yakin sebagai manusia, selama engkau masih bernapas. Tidakkah kau ingin memelukku?”rayu Wang Ja Shi.
Walaupun dalam hati peramal ingin melihat kecantikan Wang Ja Shi,namun peramal masih punya kesadaran. “Nyonya”ujar peramal lirih. Namun Wang Ja Shi makin mendekat ke arah peramal dan menyentuh kepala peramal seakan memeluknya.

Di kamar Mo Haso belum juga melahirkan, ia dirawat oleh 2 pelayan setianya.
“Mengapa anda tidak menggunakan kekuatan apapun? Sebelum aku bisa melihat bayi keluar”protes kakak pelayan setia Mo Haso.
“Aku tidak menginginkan hal itu”ujar Mo Haso.
“Apakah anda berencana untuk membunuh bayi anda?”tanya pelayannya.
“Walauapapun yang bisa aku lakukan, aku masih ingin anak ini hidup”jawab Mo Haso lemah ( Mo Haso punya firasat kalau anaknya perempuan, kalau lahir perempuan kan dibunuh!_!).
“Tapi nyonya akan mati”seru pelayan setianya.
“Jika aku harus mati maka bayi ini akan mati bersamaku”ujar Mo Haso.
“Nyonya, benar-benar”protes pelayan setia Mo Haso. Kakak pelayan setianya pun member kode pada adiknya supaya diam.
“Bagaimana anda tahu kalau itu laki-laki atau perempuan?”tanya kakak pelayan setia.
Mo Haso pun terdiam ia ingat saat bermimpi di kuil, ada seorang anak masuk ke dalam tubuhnya.
“Aku tahu bayi ini adalah putriku. Bayi ini akan mati di tangan ayahnya sendiri”kata Mo Haso dengan lemah seraya bangun dari tempat tidur.
“Maka bayi ini harus keluar”bujuk kakak pelayan setia permaisuri lalu bersiap pergi.
“Kemana kau akan pergi?”tanya adiknya.
“Aku akan pergi. Pastikan saja itu steril, sehingga kita dapat memotong tali pusarnya”jawab kakaknya.
“Bukankah kau juga seorang ibu? Mengapa kau tidak bisa mengerti?”seru Mo Haso pada kakak pelayan setia .
“Payudaraku bocor dan bengkak. Aku tahu aku akan menyusui anak berharga. Selama beberapa bulan terakhir aku memastikan aku makan sehat dan tidur nyenyak. Tentu saja aku mengerti”ujar kakak pelayan setia.
“Tinggalkan aku sendiri”ujar Mo Haso dengan tangisnya yang lemah.
“Anda bukan satu-satunya yang mengalami kesulitan. Anak berharga anda akan menderita 10 kali lipat lebih”seru kakak pelayan setia.
“Tidak”ujar Mo Haso.
“Tidak peduli seberapa banyak anda tidak ingin, aku hanya akan mengeluarkan bayi ini”seru kakak pelayan setia lalu bergegas pergi. Mo Haso pun hanya bisa terbaring dan menangis.

Kakak pelayan setia pergi ke dapur untuk menyiapkan ramuan. Ia pun mencicipi ramuan yang disediakan. Di dapur pun telah berhembus desas desus jika yang dilahirkan seorang putrid maka akan dibunuh. Kakak pelayan pun kesal mendengar berita itu lalu melempar sayuran ke dayang yang cerewet itu. Lalu ia bergegas membawa ramuan tonik yang sudah siap.

Kembali ke Wang Ja Shi dan peramal. Wang Ja Si terus merayu peramal.
“Jika dia (Mo Haso) memiliki anak perempuan?”seru Wang Ja Shi.
“Apakah memang anak perempuan?”tanya peramal.
Lalu selamatkan putriku. Kamu tidak harus membunuh keduanya”bujuk Wang Ja Shi.
“Aku tidak memiliki kekuatan semacam itu”ujar peramal.
Tapi Wang Ja Shi terus memohon dengan segala bujuk rayunya.
“Peramal, aku masih ingat caramu memandangku”rayu Wang Ja Shi.
“Artinya, harus anak laki-laki”ujar peramal seraya memalingkan mukanya.
Namun Wang Ja Shi tidak kehilangan akal,ia menggenggam tangan peramal dan meletakkan tangan peramal di dadanya seraya berkata,”Selamatkan putriku”pintanya.
Peramal pun jadi salah tingkah, “Tolong segera pergi, aku tidak bisa bernapas”ujar peramal .
Namun Wang Ja Shi bukannya pergi ia malah memeluk peramal itu.

Sementara itu kakak pelayan setia Mo Haso akan segera kembali ke ruangan Mo Haso, ia melewati jalan taman yang di lalui Wang Ja Shi tadi.
Ia berhenti sejenak saat melihat lampu di tengah jalan, ia pun melihat ke sekelilingnya. Lalu dilihatnya Wang Ja Shi dan peramal tua berpelukan. Ia pun terhenyak kaget.
“Nyonya, jangan menggoda orang tua ini”ujar peramal tua seraya melepaskan pelukannya. Tapi Wang Ja Shi tetap merayu peramal tua itu, ia seakan menciumnya, Namun dihalangi peramal.
“Silahkan berhenti”ujar peramal lalu duduk di kursi.
“Aku akan memberikan semua kalau aku tidak punya bayi itu. Tapi hanya ini yang bisa aku berikan”ujar Wang Ja Shi, lalu ia mengambil secawan arak dan meminumnya.
Ternyata Wang Ja Shi meminumkan arak itu ke mulut peramal, jadi ia langsung meminumkan arak itu ke peramal dengan mulutnya sendiri (huekssss).

Kakak pelayan yang melihatnya pun terkaget-kaget tiba-tiba terdengar panggilan,”Ibu, Ibu”.
Ternyata Il Poom kecil berlari menghampirinya, ia pun member tanda supaya Il Poom diam. Karena Ilpoom langsung memeluknya ia pun kehilangan keseimbangan padahal ditangan ada nampan berisi ramuan tonik. Nampan itu pun terbalik dan mangkuk yang berisi ramuan pun pecah hingga terdengar bunyinya.
Wang Ja Shi pun mengehentikan tindakannya tadi lalu menoleh ke sumber suara

Spoiler Episode 3 yang penuh airmata siapkan jolang merah.

Permaisuri dan Hodong kecil berlatih pedang namun Permaisuri bermain seakan membunuh Hodong. Hodong pun mendengar kekesalan ibunya saat bilang bahwa ia bukan ibu kandungnya. Hodong pun menangis di hujan yang bersalju. Permaisuri berusaha mencekik Hodong. Karena Mo Haso juga melahirkan anak perempuan maka anaknya yang dijadikan korban, Wang Ja Shi pun menusuk dada bayi Mo Haso dengan tusuk konde. Mo haso tidak ingin menguburkan putrinya ia pun menghayutkan bayinya ke sungai yang ditemani Il Poom kecil.

*Curcol : Lanjutan Ja Myung Episode 3 akan dilanjutkan tanpa batas waktu yang pasti, Episode 3nya bermasalah padahal sudah dikasih sembakonya, ari salah ngutak-atik. Jadinya videonya bermasalah kalau di klik kanan properties muncul tab general dan summary, nah yang sumary kosong harusnya ada informasi format videonya hiks...hiks...



1 comment:

cha_sya said...

Ari...lanjutin ya...seru banget ^^,rasanya aku pernah nonton.tapi nggak semua.

lanjutin ya ari...trims